Lalai Membawa Kesedihan


        Sekitar empat puluh empat tahun yang lalu, saya bersekolah di Taman Kanak-kanak Negeri II di Yogyakarta. Ada satu peristiwa yang masih teringat dalam ingatan saya. Satu peristiwa yang sangat menohok perasaan seorang anak kecl usia TK. Yaitu tidak tahu jadwal kegiatan besar saat itu (Tutup Tahun) , tidak memakai seragam, dan orang tua tidak hadir mendampingi. Bagi orang dewasa yang tidak punya perasaan, anak salah seragam adalah biasa. Mungkin orang itu akan bilang, Ngapain sih sedih atau menangis, salah seragam mah gak papa.  Orang tua tidak hadir dalam acara tutuh tahun TK? Mungkin ada sebagian orang tua sibuk yang akan bilang,  Ah Tutup tahun TK itu peristiwa kecil, sebagai orang tua saya tidak hadir tidak apa-apa, saya kan sibuk bekerja. dan sebagainya. Bagaimana dengan perasaan anak? Saat datang ke sekolah dengan bingung, tidak memakai seragam seperti temannya sehingga merasa beda dan teman lain datang bersama orang tuanya sedangkan dai datang sendiri diantar bacak dan ditinggal pergi.
kok bisa tidak tahu? Namanya juga anak TK, mis informasi terjadi karena antara orang tua dan sekolah terputus informasinya. Biasanya sekolah memberikan pengumuman berupa surat pemberitahuan dan undangan Tutup Tahun. Apakah undangan tidak sampai? saya tidak tahu waktu itu karena orangtua jarang bertemu dengan guru karena setiap hari diantar dan dijemput becak. Buku Penghubung? seingat saya waktu itu belum ada. apalagi grup whats app seperti sekarang. 

        Pagi itu aku datang terlambat seperti biasanya diantar dengan naik becaknya Pak Arjo. Setelah sampai akupun ditinggal pergi dan nanti akan dijemput lagi. Aku melihat teman-teman pada sibuk ada yang siap pentas.bagi yang tidak pentas memakai seram TK kotak-kotak merah. Aku sendiri yang memakai baju bebas. Hari ini ada apa? pikiranku berkecamuk tidak paham situasi dan kondisi. Akupun menarik diri dari kerumunan. Bersembunyi di balik pintu kelas dan menangisi diri sendiri yang berbeda dan tidak paham situasi. Bingung. Sangat Malu. Jengkel. Marah.  Hingga akhirnya datang seorang guru menyapaku, menggandengku, dan mengajakku pergi ke aula. Tangisku mereda. aku duduk di deretan kursi paling belakang menyaksikan teman-teman pentas seni. Di usiaku yang masih sangat muda aku tidak tahu mengapa ibu tidak memakaikan seragam untukku? mengapa ibu tidak hadir? Mengapa aku hanya jadi penonton saja (karena tidak pakai seragam)....
        Peristiwa yang saya alami bisa dijadikan pelajaran bagi para orangtua. Sesibuk apapun pekerjaan orang tua sebaiknya tetap memperhatikan anaknya sejak dini, berkomunikasi dengan baik dengan pihak sekolah tempat di mana anaknya dititipkan untuk dididik. Anak memakai baju yang berbeda saja dari teman-temannya sudah membuatnya tersisih dan tidak percaya diri. Apalagi jika anak tidak ikut pentas bersama temannya sekedar paduan suara hymne TK, dan orang tuanya tidak hadir. Hadirlah perasaan tidak diperhatikan oleh orang tuanya. Meski sibuk sekali, sebaiknya orang tua mengutus wakil untuk hadir memenuhi undangan sekolah. Sebagai bentuk perhatian kepada anak dan sekolah dan juga penghargaan atas jasa para guru yang telah mendidik anaknya. 
        Saya menyampaikan kisah ini bukan bermaksud mengungkit kesalahan almarhum ibu, melainkan untuk diambil pelajaran bagi para orang tua lain dalam memperhatikan anak-anaknya. Saya paham ibu dan ayah saya guru PNS yang sibuk mengajar, tetapi diantara kesibukan itu sebaiknya tetap memperhatikan kebutuhan dan keperluan anak-anaknya di sekolah agar anak tidak mengalami trauma psikologis yang mempengaruhi rasa percaya diri dan sebagainya.

Komentar